TUGAS MINI PAPER
KONSEP DASAR
E-COMMERCE
(Diajukan guna memenuhi
syarat mata kuliah E-Commerce dan Internet Ekonomi)
Dosen Pengampu:
Dr. Arif Jauhar Tontowi, MM

Penyusun:
Kelompok 3
1.
Wahyu Akbar
2.
Ninuk Dyah Puspitasari
3.
Helmik Silvia
4.
Evi Mustikasari
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER ILMU MANAJEMEN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
OKTOBER 2013
Mini Paper Konsep Dasar E-Commerce
A.
Bisnis Di Internet
Bisnis di Internet pada dasarnya dimulai dengan bisnis dunia nyata. Mereka
membawa barang-barang dan jasa yang biasa di perdagangkan di dunia nyata ke
dalam internet dengan harapan cakupan pasar akan semakin luas.
Di internet, semua orang berbisnis menggunakan website, apapun produknya.
Entah itu bisnis perorangan atau kelompok, pasti menggunakan website sebagai
media interaksinya.
Website-website ini saling bersaing antara satu dengan yang lain untuk
mendapatkan pengunjung sebanyak-banyaknya dengan harapan pengunjung dapat
menjadi customer untuk produk yang mereka pasarkan.
Dikarenakan sebagian besar pengguna internet di dunia ini menggunakan Mesin
Pencari (Search Engine) terutama Google untuk mencari sesuatu yang mereka
inginkan, maka para pemilik website tadi berusaha untuk bersaing mendapat untuk
peringkat tertinggi apabila ada orang yang mencari menggunakan kata kunci yang
berkaitan dengan produk dalam website mereka.
Persaingan ini website menimbulkan berbagai penelitian. Karena google
begitu ketat menjaga rahasia sistem nya, maka orang-orang mulai melakukan riset
untuk mendapatkan peringkat tertinggi dalam mesin pencari terpopuler ini.
Akhirnya muncullah suatu ilmu yang disebut dengan SEO (Search Engine
Optimization). Yaitu ilmu untuk mengoptimasi website-website agar dapat
menduduki peringkat tinggi dalam mesin pencari, terutama google.
Dalam SEO ini terdapat berbagai metode yang sebagian besarnya bersifat
eksternal. Artinya, sebagian besar teknik SEO menggunakan website lain sebagai
alat untuk mendongkrak popularitas website kita.
Seperti layaknya di dunia nyata, apabila nama perusahaan kita atau nama
produk kita di iklankan atau dipromosikan ke luar wilayah kita maka akan
semakin terkenal.
Di dunia nyata, banyak perusahaan bersedia membayar hingga puluhan juta
rupiah agar iklan produknya tampil di TV. Banyak yang memasang baliho di jalan
raya atau di tempat keramaian. Bagi yang bermodal kecil, ada juga yang hanya
memasang plakat nama dan alamat di pinggir jalan. Demikian pula yang terjadi
dalam ilmu SEO. Popularitas dan kelas sebuah website juga sangat ditentukan
oleh promosi yang dilakukan oleh website tersebut.
Baliho-baliho yang di pasang di pinggir jalan raya atau di keramaian itu di
ibaratkan sebuah banner dalam dunia maya. Plat nama dan alamat atau papan
penunjuk di pinggir jalan ibarat link yang mengarah ke website kita.
Metode-metode seperti inilah yang melahirkan ribuan bisnis online di seluruh dunia.Akhirnya banyak
bermunculan bisnis Pay Per Click, Jualan Link, Paid Review, Adsense, Adword,
dll. Apalagi tujuan mereka kalau bukan mendapat pengunjung banyak dan
peringkat tinggi dalam mesin pencari.
Para pemilik website bersedia membayar hanya untuk link yang ditampilkan di
blog kita dengan harapan, blog mereka mendapat peringkat tinggi dan pengunjung
lebih banyak. Sebaliknya, kita juga memerlukan SEO agar peringkat kita juga
tinggi sehingga menarik minat para pemilik website (advertiser) tadi untuk
menaruh link di blog kita.
Blog dengan peringkat tinggi akan mendongkrak sebuah website untuk memiliki
peringkat tinggi pula. Dengan logika dan pemahaman konsep yang benar, maka
dapat menentukan arah bisnis yang akan ditekuni.
Kelebihan-kelebihan wirausaha online atau wirausaha di internet ini adalah
daerah pasarnya bisa menjangkau tanpa batas, baik itu dalam negeri bahkan
sampai ke luar negeri. Jadi potensi pasarnya besar sekali, untuk pasar dalam
luar negeri, bisa dengan orang Indo yang di luar negeri atau benar-benar orang
luar sana.
Selain potensi pasar yang besar, alat-alat riset kebutuhan pasar pun
tersedia di internet ini, dan bisa dipakai dengan gratis. Jadi bisa mengetahui
peluang apa yang sedang dan lagi berkembang, berapa besar kebutuhan pasar
usaha, dan berapa tinggi tingkat saingan, sehingga bisa memilih mau bermain di
bidang usaha yang diminati.
Selain itu modalnya tentu tidaklah begitu besar dibandingkan wirausaha
konvensional. Wirausaha online termasuk peluang usaha modal kecil. Bisa
dijalankan oleh siapa saja, latar belakang apa saja, baik itu karyawan, ibu
rumah tangga, mahasiswa, anak sekolah bahkan sampai kakek nenek.
B. Konsep Dasar E-Commerce
E-commerce merupakan
singkatan dari Electronic Commerce. Ada banyak arti dari e-commerce itu
sendiri, diantaranya adalah menurut para ahli juga, tapi yang paling penting
disini adalah tentang persamaan e-commerce yang ada, diantaranya adalah:
1. E-commerce
melibatkan lebih dari satu perusahaan dan dapat diaplikasikan hamper di setiap
jenis hubungan bisnis
2. E-commerce
mengizinkan untuk menjual produk-produk dan jasa secara online
Electronic Comerce (E-Commerce) secara umum merupakan kegiatan bisnis
(perniagaan/ perdagangan) atau jasa yang berhubungan erat dengan konsumen,
manufaktur, internet service provider, dan pedagang perantara dengan
menggunakan media elektronik. Dalam hal ini media elektronik utama dengan menggunakan
internet.
Hanya dengan membuat website, perdagangan pun tidak hanya bisa dilakukan
dengan langsung datang dan bertatap muka antara si pembeli dengan si penjual,
tapi melalui website ini perdagangan secara online bisa dilakukan. Jual beli
produk pun bisa dilakukan dengan baik, website yang dibuat tidak hanya sebatas
memberikan informasi saja kepada konsumen mengenai
perusahaan/perorangan/penjual dan apa yang ditawarkan oleh
perusahaan/perorangan/penjualan tersebut. Tapi sekarang dengan mengunjungi
website tersebut pembeli bisa menemukan, melihat, membaca, memesan dan membayar
produk-produk yang diinginkan secara online. Dampaknya mengubah
perekonomian, struktur pasar dan industri, produk dan jasa serta aliran
distribusinya, segmentasi pasar, nilai bagi konsumen, perilaku konsumen,
lapangan pekerjaan dan pasar tenaga kerja. Dampaknya juga terjadi pada
masyarakat dan politik, dan perspektif kita terhadap dunia dan diri kita
didalamnya.
Ada 5 konsep
dasar E-Commerce, yakni :
1.
Automation : Otomasi bisnis proses sebagai pengganti
proses manual (konsep “enterprise resource planning”)
2.
Streamlining /
Integration: Proses
yang terintegrasi untuk mencapai hasil yang efisien dan efektif (konsep “just
in time”).
3.
Publishing: Kemudahan berkomunikasi dan berpromosi untuk
produk dan jasa yang diperdagangkan (konsep “electronic cataloging”)
4.
Interaction: Pertukaran informasi/data antar pelaku bisnis dengan
meminimalisasikan human error (konsep “electronic data interchange”)
5.
Transaction: Kesepakatan dua pelaku bisnis untuk bertransaksi dengan
melibatkan institusi lain sebagai fungsi pembayar (konsep “electronic payment”)
C. Pengertian
E-commerce
Beberapa ahli
telah mendifinisikan E-commerce sebagai berikut :
1. Menurut Mariza Arfina dan Robert Marpaung, E-Commerce atau yang lebih dikenal dengan E-com
dapat diartikan sebagai suatu cara berbelanja atau berdagang secara online atau
direct selling yang memanfaatkan fasilitas internet dimana terdapat website
yang dapat menyediakan layanan “get and deliver”
2. Menurut David Baum pengertian E-commerce adalah “E-commerce is
a dynamic set of technologies, application, and business process that link
enterprise, consumers, and communities through electronic transactions and the
electronic exchange of goods, service, and information”. E-commerce merupakan
satu set dinamis teknologi, aplikasi dan proses bisnis yang menghubungkan
perusahaan, konsumen, dan komunitas tertentu melalui transaksi elektronik dan
perdagangan barang, pelayanan dan informasi yang dilakukan secara elektonik.
3. Roger Clarke dalam “Electronic Commerce
Definitions” menyatakan
bahwa E-commerce adalah tata cara perdagangan barang dan jasa yang
menggunakan media telekomunikasi dan telekomunikasi sebagai alat bantunya.
E- commerce juga dapat didefinisikan dari beberapa perspektif, antara lain
:
1. Komunikasi : pengiriman barang, jasa, informasi, atau
pembayaran melalui jaringan komputer atau sarana electronik lainnya
2. Perdagangan : penyediaan sarana untuk membeli dan menjual
produk, jasa, dan informasi melalui Internet atau fasilitas online lainnya
3. Proses Bisnis : menjalankan proses bisnis secara elektronik
melalui jaringan elektronik, menggantikan proses bisnis fisik dengan informasi
4. Layanan : cara bagi pemerintah, perusahaan, konsumen, dan manajemen untuk memangkas
biaya pelayanan/operasi sekaligus meningkatkan mutu dan kecepatan layanan bagi
konsumen
5. Pembelajaran : sarana pendidikan dan pelatihan online untuk
sekolah, universitas, dan organisasi lain termasuk perusahaan
6. Kolaborasi : metoda kolaborasi antar dan intra organisasi
7. Komunitas : tempat berkumpul (mangkal) bagi anggota
suatu masyarakat untuk belajar, mencari informasi, melakukan transaksi, dan
berkolaborasi
D.
Manfaat E-commerce
Manfaat yang dapat diambil dari penerapan e-commerce dapat dilihat dari 3
pihak utama yang terlibat di dalamnya yaitu: organisasi, konsumen, dan
masyarakat.
1. Bagi organisasi / perusahaan
a. Pasar
internasional
Dengan penerapan e-commerce sebuah perusahaan
dapat memiliki sebuah pasar internasional. Bisnis dapat dijalankan tanpa harus terbentur
pada batas negara dengan adanya teknologi digital. Pihak perusahaan dapat
bertemu dengan partner dan kliennya dari seluruh penjuru dunia. Hal ini
menciptakan sebuah lembaga multinasional virtual.
b.
Penghematan biaya operasional
Biaya operasional dapat dihemat. Biaya untuk
membuat, memproses, mendistribusikan, menyimpan, dan memperbaiki kembali
informasi juga dapat ditekan.
c.
Kustomisasi masal
E-commerce telah merevolusi cara konsumen dalam
membeli barang dan jasa. Produk barang dan jasa dapat dimodifikasi sesuai
dengan keingingan konumen. Contohnya, di masa lalu saat perusahaan Ford mulai
memasarkan mobil produksinya, para pembeli hanya dapat membeli motor yang
berwarna hitam karena yang dibuat memang hanya warna tersebut. Namun sekarang
pembeli dapat mengkonfigurasi sebuah mobil sesuai dengan spesifikasi mereka
hanya dalam beberapa menit, misalnya menentukan warna mobil yang mereka
inginkan untuk mobil yang akan mereka beli, hanya dengan mengunjungi website
Ford di internet.
d.
Berkurangnya kendala inovasi
Yang dimaksud adalah dengan e-commerce, suatu
perusahaan dapat menghemat sumber daya karena mereka tidak dipusingkan dengan
sulitnya membuat penemuan baru untuk modifikasi produk mereka. Sebagai contoh,
perusahaan seperti Motorola (mobile phone) dan Dell (komputer) dapat
mengumpulkan para konsumennya yang memesan sebuah produk. Para konsumen dapat
membuat suatu daftar mengenai spesifikasi produk baru yang mereka inginkan dan
mengirimkannya ke perusahaan secara on-line. Kemudian perusahaan dapat merencanakan
produksi suatu produk berdasarkan spesifikasi konsumen dan mengirimkan hasilnya
dalam jangka waktu beberapa hari.
e.
Biaya telekomunikasi yang lebih rendah
Internet lebih murah dari sebuah jaringan
tambahan yang hanya digunakan untuk telepon. Adalah lebih murah untuk
mengirimkan sebuah fax atau e-mail via internet daripada melakukan dial telepon
secara langsung.
f.
Digitalisasi proses dan produk
Contohnya pada kasus produk software dan audio
video, produk digital tersebut dapat diunduh atau dikirim lewat e-mail secara
langsung ke konsumen melalui internet dalam format digital. Hal ini tentu saja
menghemat waktu dan biaya pengiriman produk.
g.
Batasan waktu kerja dapat diatasi
Bisnis dapat dijalankan tanpa mengenal batas
waktu karena dijalankan secara on-line melalui internet yang selalu beroperasi
tiap hari.
2. Bagi konsumen
a.
Akses penuh 24 jam / 7 hari
Konsumen dapat berbelanja atau mengolah bernagai
transaksi lain dalam 24 jam sepanjang hari, sepanjang tahun di sebagian besar
lokasi. Contohnya memeriksa saldo, membuat pembayaran, dan memperoleh informasi
lainnya.
b.
Lebih banyak pilihan
Konsumen tidak hanya memiliki sekumpulan produk
yang bisa dipilih, namun juga daftar supplier internasional sehingga konsumen
memiliki pilihan produk yang lebih banyak.
c.
Perbandingan harga
Konsumen dapat berbelanja di seluruh dunia dan
membandingkan harganya dengan mengunjungi berbagai situs yang berbeda atau
dengan mengunjungi sebuah website tunggal yang menampilkan berbagai harga dari
sejumlah provider.
d.
Proses pengantaran produk yang inovatif
Dengan e-commerce proses pengantaran produk
menjadi lebih mudah. Misalnya dalam kasus produk elektronik misalnya software
atau berkas audio visual di mana konsumen dapat memperoleh produk tersebut
cukup dengan mengunduhnya melalui internet.
3. Bagi masyarakat
a. Praktek kerja yang lebih fleksibel
E-commerce memungkinkan masyarakat bisa lebih
fleksibel dalam menentukan tempat bekerja, misalnya mereka dapat bekerja dari
rumahnya masing-saing tanpa harus pergi ke kantor.
b. Terhubungnya
masyarakat dengan masyarakat lain
Masyarakat di negara berkembang dapat mengakses
dan menikmati produk, layanan, dan informasi yang mungkin sulit mereka temukan
di daerahnya.
c. Kemudahan akses
fasilitas publik
Masyarakat
dengan mudah dapat memanfaatkan layanan publik, misalnya layanan kesehatan dan
konsultasi serta pembelian resep dokter dengan mengunjungi internet.
E. Perjalanan
E-Commerce
Perkembangan Teknologi Informasi telah berhasil menciptakan infrastruktur
informasi baru. Internet memiliki beberapa daya tarik dan keunggulan bagi para
konsumen maupun organisasi, misalnya dalam hal kenyamanan, kecepatan data,
akses 24 jam sehari, efisiensi, alternatif ruang dan pilihan yang tanpa batas,
personalisasi, sumber informasi dan teknologi yang potensial dan lain lainnya.
Dalam konteks bisnis, internet membawa dampak transformasional yang
menciptakan paradigma baru dalam dunia bisnis berupa 'Digital Marketing'.
Pada awal penerapan electronic commerce yang bermula di awal tahun 1970-an
dengan adanya inovasi semacam Electronic Fund Transfer (EFT). Saat itu
penerapan sistem ini masih sangat terbatas pada perusahaan berskala besar,
lembaga keuangan pemerintah dan beberapa perusahaan menengah kebawah yang
nekat, kemudian berkembang hingga muncullah yang dinamakan EDI (Electronic Data
Interchange). Bermula dari transaksi keuangan ke pemprosesan transaksi lainnya
yang membuat perusahaan-perusahaan lain ikut serta, mulai dari lembaga-lembaga
keuangan hingga ke manufacturing, ritel, jasa dan lainnya. Kemudian terus
berkembang aplikasi-aplikasi lain yang memiliki jangkauan dari trading saham
sampai ke sistem reservasi perjalanan. Pada waktu itu sistem tersebut dikenal
sebagai aplikasi telekomunikasi.
Awal tahun 1990-an komersialisasi di internet mulai berkembang pesat
mencapai jutaan pelanggan, maka muncullah istilah baru electronic commerce atau
lebih dikenal E-Commerce. Riset center E-Commerce di Texas University
menganalisa 2000 perusahaan yang online di internet, sektor yang tumbuh paling
cepat adalah E-Commerce, naik sampai 72% dari $99,8 Milyar menjadi $171,5
Milyar. Di tahun 2006 pendapatan di Internet telah mencapai angka triliunan
dollar, benar-benar angka yang menakjubkan.
Salah satu alasan pesatnya perkembangan bisnis online adalah adanya
perkembangan jaringan protokol dan sofware dan tentu saja yang paling mendasar
adalah meningkatnya persaingan dan berbagai tekanan bisnis.
F. Penyiapan
Ekonomi Berbasis Internet
Nilai dasar untuk
mendefinisikan bisnis di dunia maya adalah penyediaan informasi tentang perusahaan
produk dan jasa, menjadi pusat informasi bagi calon pelanggan, menyediakan
layanan transaksi langsung, layanan dan dukungan terus menerus. Peran
akuntan di dalam digital ekonomi akan berubah menjadi e-check requisition,
e-authorization system, e-fund transfer, e-data entry thru coustomer
intergrated system which capture data at its “point of origin”, e-transaction
proses system, e-financial reporting. Jaminan keamanan transaksi
e-commerce bagi konsumen, ketika konsumen bertransaksi mereka sedang bertransaksi
dengan perusahaan rill bukan fiktif, barang yang akan konsumen terima adalah
barang yang sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. Setiap konsumen berhak
untuk meminta perusahaan e-commerce tidak menyebarkan informasi pribadi kepada
pihak ketiga, infromasi pribadi tidak dapat dicuri secara teknologi.
Audit prinsip-prinsip web trust, meliputi tiga area praktek antara lain,
praktek bisnis, integeritas transaksi, dan kerahasian pribadi dan keamanan.
G. Perkembangan
E-commerce di Indonesia
Di dalam
perkembangan E-Commerce di Indonesia, memiliki
tantangan-tantangan, diantaranya yaitu :
1.
Kultur
a.
Masyarakat
Indonesia, yang masih belum terbiasa dengan berbelanja dengan katalog.
b.
Masih harus
melihat secara fisik atau memegang barang yang akan dijual.
c.
Masih senang
menawar harga yang dijual.
2. Kepercayaan
a. Kepercayaan antara penjual
dan pembeli masih tipis.
b. Kepercayaan kepada pembayaran
elektronik masih kurang.
c. Penggunaan masih jarang.
Sampai saat ini, web resmi yang telah menyelenggarakan e-commerce di
Indonesia adalah RisTI Shop. Risti, yaitu Divisi Riset dan Teknologi Informasi
milik PT. Telkom, menyediakan prototipe layanan e-commerce untuk penyediaan
informasi produk peralatan telekomunikasi dan non-telekomunikasi. Web ini juga
telah mendukung proses transaksi secara online. Selain RisTI, tampaknya belum
ada web lain yang menyelenggarakan e-com di Indonesia. Padahal, untuk membuat
sistem e-com, investasi yang dikeluarkan tidak sebesar membangun suatu toko
yang sebenarnya. Selain itu, lingkup pemasaran produknya bisa jauh lebih luas,
karena tidak terbatas pada satu kota tertentu. Selain itu, biaya
penyelenggaraan dan promosi pada e-com juga lebih kecil jika dibandingkan
dengan sistem toko yang konvensional.Ada Beberapa Usaha Besar yang Sedang
Berjalan membangun mata rantai E-Commerce Nasional, yaitu
: Lippo-e-Net, Telkom dengan CommerceNet &
Plasa.Com, Indosat dengan Portal 1-2, IndosatCom dengan Dagang2000
& Indosign, Jatis dengan solusi etalaze-nya
H. Beberapa Kesalahan Mendasar Penyebab Kegagalan Bisnis E-Commerce
Melakukan bisnis di dunia maya (e-commerce) sama sekali berbeda dengan
mengelola perusahaan konvensional. Selain dibutuhkan ketekunan dan kreativitas
yang terus-menerus, strategi yang tepat perlu disusun dan dikembangkan agar
keunggulan kompetitif yang dimiliki dapat terus dipelihara dan ditingkatkan.
Statistik mencatat bahwa dari seluruh perusahaan berbasis internet yang tumbuh,
hanya sekitar 20% yang mampu bertahan untuk beroperasi dalam periode waktu yang
cukup panjang. Amir Hartman dan rekan-rekan dalam bukunya “Net Ready” menemukan
7 (tujuh) kesalahan mendasar yang menyebabkan terjadinya kegagalan bagi
mayoritas pelaku bisnis e-commerce yang ada di dunia (Hartman, 2000). Dikatakan
mendasar karena hampir seluruh situs yang “mati” melakukan satu atau lebih
kesalahan umum tersebut. 7 (tujuh) kesalahan mendasar tersebut, antara lain :
1. “Field
of Dreams” Syndrome
Sindrom “Field of Dreams” menempati urutan pertama sebagai jenis
permasalahan klasik yang paling banyak terjadi di berbagai perusahaan
e-commerce. Yang dimaksud dengan Sindrom “Field of Dreams” adalah keyakinan
para pendiri dan pengelola situs bahwa jika sebuah model bisnis e-commerce
tertentu diperkenalkan, maka pelanggan akan datang dengan sendirinya (otomatis)
karena daya tarik produk atau servis yang ada. Keyakinan yang cenderung
bersifat over confidence ini berakibat tidak adanya keinginan untuk melakukan
usaha-usaha semacam studi kelayakan atau market testing terlebih dahulu. Atau
dengan kata lain, tanpa mempertimbangkan apakah produk/jasa yang ditawarkan
akan laku atau tidak, investasi untuk membangun dan mengembangkan bisnis
e-commerce langsung dilakukan. Perkiraan keuangan pun biasanya disusun dengan
mempergunakan asumsi best case scenario karena unsur kepercayaan diri yang
berlebihan tersebut.
Model bisnis tersebut di atas, biasanya akan segera mati jika harapan akan
datangnya pelanggan dengan jumlah yang telah ditargetkan tidak terjadi. Bisnis
sulit untuk bangkit kembali mengingat alokasi keuangan (finansial) telah
dilakukan sedemikian rupa dengan anggapan bahwa best case scenario akan
terwujud. (Sumber: Amir Hartman, 2000)
2.
Inadequate Architecture
Tidak jarang suatu bisnis model e-commerce yang berpeluang besar untuk
sukses harus kandas karena tidak adanya fasilitas atau spesifikasi arsitektur
teknologi informasi yang memadai. Contohnya adalah pemutaran film atau
multimedia melalui internet (e-movie) yang hanya dapat terwujud jika tersedia
bandwidth komunikasi yang memadai. Contoh lain adalah kegagalan beberapa situs
yang menawarkan free download untuk memperoleh jumlah pelanggan yang diharapkan
karena kebanyakan pemakai internet di negara berkembang merasa rugi untuk
melakukan download yang memakan waktu cukup lama, sehingga mereka harus
membayar mahal biaya telepon. Belum tingginya faktor kegagalan karena sering
putusnya hubungan komunikasi ketika proses download sedang berjalan. Hal serupa
juga dialami oleh beberapa pelanggan yang ingin berkomunikasi melalui alat
semacam infotalk agar pulsa telepon internasional dapat dibayar dengan harga
lokal. Hubungan berbasis Voice over Internet Protocol ini tidak akan efektif
jika provider yang bersangkutan sedang berada dalam peak traffic.
3. Putting
Lipstick on a Bulldog
Terlepas dari berbagai jenis atau kategori e-commerce seperti B-to-B atau
B-to-C, secara konseptual arsitektur teknologi informasi yang dipergunakan
dapat dibagi menjadi dua sistem besar, yaitu sistem front office (SFO) dan
sistem back office (SBO). Pada dasarnya, situs atau website merupakan user
interface dari SFO karena sifatnya yang menghubungkan konsumen dengan
perusahaan. Sehingga seringkali perusahaan mengalokasikan sebagian besar sumber
daya-nya untuk membangun sistem ini agar tanpak bagus dan menarik di mata
konsumen. Hal ini wajar untuk dilakukan mengingat dalam dunia maya, konsumen
hanya berhadapan dengan sebuah situs sebagai representasi dari perusahaan.
Riset memperlihatkan bahwa desain situs yang kurang menarik dan tidak user
friendly mengurangi minat konsumen untuk melakukan transaksi atau interaksi
bisnis lainnya. Karena terlalu memfokuskan diri pada SFO, terkadang perusahaan
lupa untuk membangun sistem administratifnya atau SBO, yang sebenarnya
merupakan aktivitas penunjang transaksi bisnis yang ada. Contohnya adalah situs
yang menawarkan jasa lelang (auction) di internet. Setelah seseorang
memenangkan sebuah sesi lelang, yang bersangkutan harus segera berhubungan
dengan SBO untuk menyelesaikan permasalahan hukum dan administratifnya, seperti
transfer pembayaran, serah terima barang, balik nama, masalah perpajakan, dan
lain sebagainya. Jika perusahaan gagal menawarkan suatu penyelesaian SBO yang
baik kepada konsumen, tidak mustahil lambat laun perusahaan akan kehilangan
para pelanggan. Harap diperhatikan bahwa ada dua jenis SBO, yaitu yang masih
dikelola secara manual, dan yang telah menggunakan fasilitas aplikasi dan
komputer (otomatisasi).
4. Islands
of Webification
Konsep pengembangan situs yang berbasis obyek, selain memudahkan perancang
dan pengembang sistem aplikasi untuk menambah dan mengurangi modul, menimbulkan
pula permasalahan tersendiri di kemudian hari. Kebanyakan perancang situs
biasanya lebih memilih pendekatan “tambal sulam” dibandingkan dengan melakukan
perencanaan yang matang mengenai konsep situs untuk jangka pendek, menengah,
dan panjang. Hal ini cukup dapat dimengerti karena tidak jarang dari mereka
yang masih menggunakan pendekatan trial-and-error dalam menetapkan icons yang
sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan minat pelanggan. Terlepas dari apakah
perusahaan telah memiliki konsep pembangunan situs secara bertahap atau tidak,
yang harus diperhatikan adalah dimilikinya suatu konsep blue print untuk
mencegah terjadinya efek-efek negatif yang mungkin ditimbulkan karena adanya
pengembangan situs website yang tidak terorganisasi. Adanya islands of
webification yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya akibat sebagai
berikut:
1. Hubungan antar data menjadi tidak terkontrol
sehingga mengurangi tingkat reliability dan accuracy data atau informasi yang
diolah;
2. Menurunnya tingkat sistem keamanan (security
system) karena banyaknya modul-modul “liar” yang belum terdeteksi;
3. Semakin lambatnya kinerja sistem karena semakin
besarnya beban aplikasi yang dibangun secara tidak optimum;
4. Sulitnya melakukan updating karena kuantitas
modul yang semakin bertambah besar dan tidak terkendali;
5. Minimnya kontrol terhadap masing-masing modul
karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki perusahaan; dan lain sebagainya.
Tidak mustahil
chaos dapat terjadi terhadap situs yang tidak terkelola dengan baik. Belum lagi
jika adanya faktor-faktor kesengajaan lain seperti halnya ulah hackers dan
crackers.
5. “Me too”
Strategies
Dalam bahasa Indonesia, strategi “me too” sering diistilahkan dengan
“latah” atau “ikut-ikutan”. Lihatlah bagaimana seluruh perusahaan ikut-ikutan
untuk terjun ke e-commerce tanpa mengetahui dasar-dasar pemikiran dan filosofi
yang melatarbelakanginya. Atau membanjirnya perusahaan-perusahaan lokal untuk
membuat situs portal, tanpa mengetahui seluk beluk atau aspek bisnis yang
ditawarkan. Sebenarnya konsep me too ini tidak salah sejauh yang bersangkutan
paham benar mengenai peluang-peluang bisnis yang ditawarkan dan mengapa
berbagai perusahaan mencoba untuk memanfaatkannya. Sebab jika tidak, yang akan terjadi
adalah sebuah pemborosan sumber daya yang dimiliki, kesulitan untuk menemukan
keunggulan kompetitif, kekacauan dalam mengelola manajemen operasional
sehari-hari, yang akan bermuara pada ketidakmampuan bisnis untuk bertahan.
Contohnya adalah kenyataan bahwa bisnis portal marak di Amerika karena adanya
faktor exit strategy yang cenderung bersifat hit-and-run setelah perusahaan
yang bersangkutan memiliki market value yang tinggi. Nilai pasar sangat
ditentukan oleh hitting rate dari situs yang bersangkutan, karena masyarakat
Amerika memiliki potensi untuk melakukan bisnis melalui e-commerce. Semakin
banyak orang yang mengakses situs portal akan semakin menambah nilai pasar
perusahaan. Apakah hitting rate juga dapat secara efektif meningkatkan value
dari perusahaan di Indonesia?
6.
One-Time-Effort-Mentality
Tidak semua perusahaan e-commerce merupakan a start up company. Kebanyakan
justru merupakan anak perusahaan atau bahkan salah satu divisi dari
perusahaan-perusahaan yang telah lama berkembang. Terhadap jenis perusahaan
yang terakhir ini, biasanya berkembang suatu “penyakit” turunan yaitu kepuasan
yang timbul setelah situsnya berhasil diluncurkan ke internet (launching).
Mereka cenderung menganggap remeh atau enteng proses setelah itu, karena bagi
mereka tidak lebih dari urusan operasional atau administratif biasa.
One-Time-Effort-Mentality ini akan mengakibatkan perusahaan yang bersangkutan
hanya mampu bertahan seumur jagung saja, karena di dalam dunia maya, sangat
mudah untuk meniru apa yang dilakukan oleh perusahaan lain. Kunci sukses bisnis
e-commerce adalah ketekunan untuk memelihara sistem yang berjalan dan selalu
membuat kreasi yang baru secara kontinyu. E-commerce adalah business of its
own, artinya bisnis ini tidak dapat disambi melainkan harus dianggap sebagai
sebuah perusahaan sendiri. Alokasi sumberdayanyapun harus didedikasikan
sedemikian rupa sehingga tidak menggangu jalannya proses bisnis yang ada
(jangan dirangkap dengan aktivitas bisnis konvensional).
7. Thinking too
Small
Berbisnis di dunia maya berarti berinteraksi dengan seluruh konsumen yang
ada di seluruh dunia, sehingga pola pikir sempit harus segera diubah. Mungkin
peribahasa yang tepat dalam menekuni bisnis ini adalah “think globally, act
globally” karena di dalam dunia maya dikenal konsep “sebuah perusahaan tidak
perlu besar untuk menjadi besar”, yang artinya bahwa nilai aset tidak memiliki
relevansi yang tinggi terhadap tingkat keberhasilan bisnis. Berfikir sederhana
atau terlalu sempit dalam melakukan bisnis e-commerce akan mempermudah
perusahaan lain untuk memenangkan persaingan. Di samping itu perlu diperhatikan
pula bahwa konsumen sebagai seorang manusia tidak pernah berhenti dalam
memperoleh kepuasannya. Yang bersangkutan akan terus menerus menuntut sesuatu
hal yang baru dan lebih baik. Perusahaan dengan visi dan misinya harus mampu
untuk menjawab permintaan pasar ini. Filosofi perusahaan konvensional dapat
dipergunakan di sini, yaitu suatu prinsip bahwa jika mendirikan sebuah
perusahaan, pemilik dan pengelola harus memegang prinsip bahwa perusahaan
tersebut akan last forever, dalam arti kata akan terus berkembang sampai
beberapa generasi.
I.
Kesimpulan dan Saran
a.
Kesimpulan
Dengan menggunakan e-commerce kita dapat
memperoleh beberapa keuntungan yang meliputi layanan konsumen dan citra
perusahaan menjadi baik, menemukan partner bisnis baru, proses menjadi
sederhana dan waktu dapat dipadatkan, dapat meningkatkan produktivitas, akses
informasi menjadi cepat, penggunaan kertas dapat dihindari, biaya transportasi
berkurang dan fleksibilitas bertambah.
Manfaat dari e-commerce bagi konsumen diantaranya
dapat melayani transaksi 24 jam hampir disetiap lokasi, memberikan banyak
pilihan pada pelanggan, menyediakan produk yang tidak mahal dengan cara
mengunjungi banyak tempat dan melakukan pembandinagn secara tepat, pengiriman
menjadi cepat, partisipasi dalam pelayanan maya (virtual action), dapat
berinteraksi denagn pelanggan lain dan memudahkan persaingan.
Manfaat e-commerce bagi masyarakat diantaranya
dapat memungkinkan untuk bekerja dirumah, terbatasnya jumlah barang yang
dijual, dapat menikmati produk atau jasa yang susah dipasarkan, memfasilitasi
layanan publik seperti perawatan, kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Dengan
adanya berbagai keuntungan e-commerce, maka ada juga keterbatasannya dengan
kategori teknis dan nonteknis.
b. Saran
1. Walaupun e-commerce sudah menjadi solusi
efektif dan efisien dalam mengatasi segala kebutuhan masyarakat dari sisi
materiil, namun aspek-aspek moril yang terkait dengan hubungan
sosial-kemanusian juga perlu diperhatikan, seperti :
a. Berkurangnya
interaksi antar manusia
Transaksi e-commerce yang berlangsung secara on-line telah mengurangi waktu
konsumen untuk dapat melakukan proses sosial dengan orang lain. Hal ini tidak
baik karena dikhawatirkan akan dapat mengurangi rasa kepedulian terhadap
lingkungan sekitarnya.
b. Kesenjangan sosial
Terdapat bahaya potensial karena dapat terjadi kesenjangan sosial antara
orang-orang yang memiliki kemampuan teknis dalam e-commerce dengan yang tidak,
yang memiliki keahlian digaji lebih tinggi daripada yang tidak.
c. Adanya sumber daya yang
terbuang
Munculnya teknologi baru akan membuat teknologi lama tidak dimanfaatkan lagi.
Misalnya dengan komputer model lama atau software model lama yang sudah tidak
relevan untuk digunakan.
- Sulitnya mengatur internet
Sejumlah kriminalitas telah terjadi di internet dan banyak yang tidak
terdeteksi. Karena jumlah jaringan yang terus berkembang semakin luas dan
jumlah pengguna yang semakin banyak, seringkali membuat pihak berwenang
kesulitan dalam membuat peraturan untuk internet.
2.
Perkembangan
e-commerce yang luas dan lingkungan tiada batas yang diciptakan untuk
e-commerce membawa paradigma baru bagi Pemerintah dan tanggung jawab sektor
swasta. Oleh karena itu diharapkan kepada Pemerintah agar mempunyai kebijakan
publik yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dijital yang menawarkan
fleksibilitas, solusi industri yang secara efektif akan mengatasi masalah yang
timbul.
DAFTAR PUSTAKA
Raharjo,
Dendy. 2013. KONSEP DASAR E- COMMERCE. http://dendyraharjo.blogspot.com/2013/03/konsep-dasar-e-commerce_31.html. Diakses tanggal 31 Maret 2013
Jauhari, Tantowi. 2013. Mengenal bisnis Online. http://www.tanthowi.com/2013/10/mengenal-bisnis-online.html. Diakses tanggal 1 oktober 2013
Radjasa, Rangga. 2009. Perjalanan E-Commerce di
Indonesia. http://ranggaradjasa.wordpress.com/2009/06/29/perjalanan-e-commerce-di-indonesia/. Diakses tanggal 29 Juni 2009
Ayuananda, Citra. 2013. KONSEP DASAR E-
COMMERCE. http://citraayuananda.blogspot.com/2013_04_01_archive.html. Diakses tanggal 1 April 2013
Institut Teknologi Bandung. 2013. Ekonomi
berbasis internet dalam persepsi indonesia. Bandung. Diakses tanggal 11
oktober 2013