Jumat, 18 Oktober 2013

MINI PAPER KONSEP DASARE-COMMERCE



TUGAS MINI PAPER
KONSEP DASAR E-COMMERCE
(Diajukan guna memenuhi syarat mata kuliah E-Commerce dan Internet Ekonomi)


Dosen Pengampu:
Dr. Arif Jauhar Tontowi, MM

http://www.kesekolah.com/images2/sekolah/2012052815400518729.jpg









Penyusun:
Kelompok 3

1.      Wahyu Akbar
2.      Ninuk Dyah Puspitasari
3.      Helmik Silvia
4.      Evi Mustikasari


PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER ILMU MANAJEMEN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
OKTOBER 2013
Mini Paper Konsep Dasar E-Commerce

A.       Bisnis Di Internet
Bisnis di Internet pada dasarnya dimulai dengan bisnis dunia nyata. Mereka membawa barang-barang dan jasa yang biasa di perdagangkan di dunia nyata ke dalam internet dengan harapan cakupan pasar akan semakin luas.
Di internet, semua orang berbisnis menggunakan website, apapun produknya. Entah itu bisnis perorangan atau kelompok, pasti menggunakan website sebagai media interaksinya.
Website-website ini saling bersaing antara satu dengan yang lain untuk mendapatkan pengunjung sebanyak-banyaknya dengan harapan pengunjung dapat menjadi customer untuk produk yang mereka pasarkan.
Dikarenakan sebagian besar pengguna internet di dunia ini menggunakan Mesin Pencari (Search Engine) terutama Google untuk mencari sesuatu yang mereka inginkan, maka para pemilik website tadi berusaha untuk bersaing mendapat untuk peringkat tertinggi apabila ada orang yang mencari menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan produk dalam website mereka.
Persaingan ini website menimbulkan berbagai penelitian. Karena google begitu ketat menjaga rahasia sistem nya, maka orang-orang mulai melakukan riset untuk mendapatkan peringkat tertinggi dalam mesin pencari terpopuler ini.
Akhirnya muncullah suatu ilmu yang disebut dengan SEO (Search Engine Optimization). Yaitu ilmu untuk mengoptimasi website-website agar dapat menduduki peringkat tinggi dalam mesin pencari, terutama google.
Dalam SEO ini terdapat berbagai metode yang sebagian besarnya bersifat eksternal. Artinya, sebagian besar teknik SEO menggunakan website lain sebagai alat untuk mendongkrak popularitas website kita.
Seperti layaknya di dunia nyata, apabila nama perusahaan kita atau nama produk kita di iklankan atau dipromosikan ke luar wilayah kita maka akan semakin terkenal.
Di dunia nyata, banyak perusahaan bersedia membayar hingga puluhan juta rupiah agar iklan produknya tampil di TV. Banyak yang memasang baliho di jalan raya atau di tempat keramaian. Bagi yang bermodal kecil, ada juga yang hanya memasang plakat nama dan alamat di pinggir jalan. Demikian pula yang terjadi dalam ilmu SEO. Popularitas dan kelas sebuah website juga sangat ditentukan oleh promosi yang dilakukan oleh website tersebut.
Baliho-baliho yang di pasang di pinggir jalan raya atau di keramaian itu di ibaratkan sebuah banner dalam dunia maya. Plat nama dan alamat atau papan penunjuk di pinggir jalan ibarat link yang mengarah ke website kita.
Metode-metode seperti inilah yang melahirkan ribuan bisnis online di seluruh dunia.Akhirnya banyak bermunculan bisnis Pay Per Click, Jualan Link, Paid Review, Adsense, Adword, dll. Apalagi tujuan mereka kalau bukan mendapat pengunjung banyak dan peringkat tinggi dalam mesin pencari.
Para pemilik website bersedia membayar hanya untuk link yang ditampilkan di blog kita dengan harapan, blog mereka mendapat peringkat tinggi dan pengunjung lebih banyak. Sebaliknya, kita juga memerlukan SEO agar peringkat kita juga tinggi sehingga menarik minat para pemilik website (advertiser) tadi untuk menaruh link di blog kita.
Blog dengan peringkat tinggi akan mendongkrak sebuah website untuk memiliki peringkat tinggi pula. Dengan logika dan pemahaman konsep yang benar, maka dapat menentukan arah bisnis yang akan  ditekuni.
Kelebihan-kelebihan wirausaha online atau wirausaha di internet ini adalah daerah pasarnya bisa menjangkau tanpa batas, baik itu dalam negeri bahkan sampai ke luar negeri. Jadi potensi pasarnya besar sekali, untuk pasar dalam luar negeri, bisa dengan orang Indo yang di luar negeri atau benar-benar orang luar sana.
Selain potensi pasar yang besar, alat-alat riset kebutuhan pasar pun tersedia di internet ini, dan bisa dipakai dengan gratis. Jadi bisa mengetahui peluang apa yang sedang dan lagi berkembang, berapa besar kebutuhan pasar usaha, dan berapa tinggi tingkat saingan, sehingga bisa memilih mau bermain di bidang usaha yang diminati.
Selain itu modalnya tentu tidaklah begitu besar dibandingkan wirausaha konvensional. Wirausaha online termasuk peluang usaha modal kecil. Bisa dijalankan oleh siapa saja, latar belakang apa saja, baik itu karyawan, ibu rumah tangga, mahasiswa, anak sekolah bahkan sampai kakek nenek.



B. Konsep Dasar E-Commerce

E-commerce merupakan singkatan dari Electronic Commerce. Ada banyak arti dari e-commerce itu sendiri, diantaranya adalah menurut para ahli juga, tapi yang paling penting disini adalah tentang persamaan e-commerce yang ada, diantaranya adalah:
1.   E-commerce melibatkan lebih dari satu perusahaan dan dapat diaplikasikan hamper di setiap jenis hubungan bisnis
2.   E-commerce mengizinkan untuk menjual produk-produk dan jasa secara online
Electronic Comerce (E-Commerce) secara umum merupakan kegiatan bisnis (perniagaan/ perdagangan) atau jasa yang berhubungan erat dengan konsumen, manufaktur, internet service provider, dan pedagang perantara dengan menggunakan media elektronik. Dalam hal ini media elektronik utama dengan menggunakan internet.
Hanya dengan membuat website, perdagangan pun tidak hanya bisa dilakukan dengan langsung datang dan bertatap muka antara si pembeli dengan si penjual, tapi melalui website ini perdagangan secara online bisa dilakukan. Jual beli produk pun bisa dilakukan dengan baik, website yang dibuat tidak hanya sebatas memberikan informasi saja kepada konsumen mengenai perusahaan/perorangan/penjual dan apa yang ditawarkan oleh perusahaan/perorangan/penjualan tersebut. Tapi sekarang dengan mengunjungi website tersebut pembeli bisa menemukan, melihat, membaca, memesan dan membayar produk-produk yang diinginkan secara online. Dampaknya mengubah perekonomian, struktur pasar dan industri, produk dan jasa serta aliran distribusinya, segmentasi pasar, nilai bagi konsumen, perilaku konsumen, lapangan pekerjaan dan pasar tenaga kerja. Dampaknya juga terjadi pada masyarakat dan politik, dan perspektif kita terhadap dunia dan diri kita didalamnya.
Ada 5 konsep dasar E-Commerce, yakni :
1.        Automation : Otomasi bisnis proses sebagai pengganti proses manual (konsep “enterprise resource planning”)
2.        Streamlining / Integration: Proses yang terintegrasi untuk mencapai hasil yang efisien dan efektif (konsep “just in time”).
3.        Publishing: Kemudahan berkomunikasi dan berpromosi untuk produk dan  jasa yang diperdagangkan (konsep “electronic cataloging”)
4.        Interaction: Pertukaran informasi/data antar pelaku bisnis dengan meminimalisasikan human error  (konsep “electronic data interchange”)
5.        Transaction: Kesepakatan dua pelaku bisnis untuk bertransaksi dengan melibatkan institusi lain sebagai fungsi pembayar (konsep “electronic payment”)

C. Pengertian E-commerce

Beberapa ahli telah mendifinisikan E-commerce sebagai berikut :
1.    Menurut Mariza Arfina dan Robert Marpaung, E-Commerce atau yang lebih dikenal dengan E-com dapat diartikan sebagai suatu cara berbelanja atau berdagang secara online atau direct selling yang memanfaatkan fasilitas internet dimana terdapat website yang dapat menyediakan layanan “get and deliver”
2.    Menurut David Baum pengertian E-commerce adalah “E-commerce is a dynamic set of technologies, application, and business process that link enterprise, consumers, and communities through electronic transactions and the electronic exchange of goods, service, and information”. E-commerce merupakan satu set dinamis teknologi, aplikasi dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen, dan komunitas tertentu melalui transaksi elektronik dan perdagangan barang, pelayanan dan informasi yang dilakukan secara elektonik.
3.    Roger Clarke dalam “Electronic Commerce Definitions” menyatakan bahwa E-commerce adalah tata cara perdagangan barang dan jasa yang menggunakan media telekomunikasi dan telekomunikasi sebagai alat bantunya.

E- commerce juga dapat didefinisikan dari beberapa perspektif, antara lain :
1.    Komunikasi : pengiriman barang, jasa, informasi, atau pembayaran melalui jaringan komputer atau sarana electronik lainnya
2.    Perdagangan : penyediaan sarana untuk membeli dan menjual produk, jasa, dan informasi melalui Internet atau fasilitas online lainnya
3.    Proses Bisnis : menjalankan proses bisnis secara elektronik melalui jaringan elektronik, menggantikan proses bisnis fisik dengan informasi
4.    Layanan : cara bagi pemerintah, perusahaan, konsumen, dan manajemen untuk memangkas biaya pelayanan/operasi sekaligus meningkatkan mutu dan kecepatan layanan bagi konsumen
5.    Pembelajaran : sarana pendidikan dan pelatihan online untuk sekolah, universitas, dan organisasi lain termasuk perusahaan
6.    Kolaborasi : metoda kolaborasi antar dan intra organisasi
7.    Komunitas : tempat berkumpul (mangkal) bagi anggota suatu masyarakat untuk belajar, mencari informasi, melakukan transaksi, dan berkolaborasi

D.     Manfaat E-commerce
Manfaat yang dapat diambil dari penerapan e-commerce dapat dilihat dari 3 pihak utama yang terlibat di dalamnya yaitu: organisasi, konsumen, dan masyarakat.
1.      Bagi organisasi / perusahaan
a.    Pasar internasional
Dengan penerapan e-commerce sebuah perusahaan dapat memiliki sebuah pasar internasional. Bisnis dapat dijalankan tanpa harus terbentur pada batas negara dengan adanya teknologi digital. Pihak perusahaan dapat bertemu dengan partner dan kliennya dari seluruh penjuru dunia. Hal ini menciptakan sebuah lembaga multinasional virtual.
b.   Penghematan biaya operasional
Biaya operasional dapat dihemat. Biaya untuk membuat, memproses, mendistribusikan, menyimpan, dan memperbaiki kembali informasi juga dapat ditekan.
c.    Kustomisasi masal
E-commerce telah merevolusi cara konsumen dalam membeli barang dan jasa. Produk barang dan jasa dapat dimodifikasi sesuai dengan keingingan konumen. Contohnya, di masa lalu saat perusahaan Ford mulai memasarkan mobil produksinya, para pembeli hanya dapat membeli motor yang berwarna hitam karena yang dibuat memang hanya warna tersebut. Namun sekarang pembeli dapat mengkonfigurasi sebuah mobil sesuai dengan spesifikasi mereka hanya dalam beberapa menit, misalnya menentukan warna mobil yang mereka inginkan untuk mobil yang akan mereka beli, hanya dengan mengunjungi website Ford di internet.


d.   Berkurangnya kendala inovasi
Yang dimaksud adalah dengan e-commerce, suatu perusahaan dapat menghemat sumber daya karena mereka tidak dipusingkan dengan sulitnya membuat penemuan baru untuk modifikasi produk mereka. Sebagai contoh, perusahaan seperti Motorola (mobile phone) dan Dell (komputer) dapat mengumpulkan para konsumennya yang memesan sebuah produk. Para konsumen dapat membuat suatu daftar mengenai spesifikasi produk baru yang mereka inginkan dan mengirimkannya ke perusahaan secara on-line. Kemudian perusahaan dapat merencanakan produksi suatu produk berdasarkan spesifikasi konsumen dan mengirimkan hasilnya dalam jangka waktu beberapa hari.
e.    Biaya telekomunikasi yang lebih rendah
Internet lebih murah dari sebuah jaringan tambahan yang hanya digunakan untuk telepon. Adalah lebih murah untuk mengirimkan sebuah fax atau e-mail via internet daripada melakukan dial telepon secara langsung.
f.     Digitalisasi proses dan produk
Contohnya pada kasus produk software dan audio video, produk digital tersebut dapat diunduh atau dikirim lewat e-mail secara langsung ke konsumen melalui internet dalam format digital. Hal ini tentu saja menghemat waktu dan biaya pengiriman produk.
g.    Batasan waktu kerja dapat diatasi
Bisnis dapat dijalankan tanpa mengenal batas waktu karena dijalankan secara on-line melalui internet yang selalu beroperasi tiap hari.

2.    Bagi konsumen
a.    Akses penuh 24 jam / 7 hari
Konsumen dapat berbelanja atau mengolah bernagai transaksi lain dalam 24 jam sepanjang hari, sepanjang tahun di sebagian besar lokasi. Contohnya memeriksa saldo, membuat pembayaran, dan memperoleh informasi lainnya.
b.   Lebih banyak pilihan
Konsumen tidak hanya memiliki sekumpulan produk yang bisa dipilih, namun juga daftar supplier internasional sehingga konsumen memiliki pilihan produk yang lebih banyak.



c.    Perbandingan harga
Konsumen dapat berbelanja di seluruh dunia dan membandingkan harganya dengan mengunjungi berbagai situs yang berbeda atau dengan mengunjungi sebuah website tunggal yang menampilkan berbagai harga dari sejumlah provider.
d.   Proses pengantaran produk yang inovatif
Dengan e-commerce proses pengantaran produk menjadi lebih mudah. Misalnya dalam kasus produk elektronik misalnya software atau berkas audio visual di mana konsumen dapat memperoleh produk tersebut cukup dengan mengunduhnya melalui internet.

3.    Bagi masyarakat
a.  Praktek kerja yang lebih fleksibel
E-commerce memungkinkan masyarakat bisa lebih fleksibel dalam menentukan tempat bekerja, misalnya mereka dapat bekerja dari rumahnya masing-saing tanpa harus pergi ke kantor.
b.   Terhubungnya masyarakat dengan masyarakat lain
Masyarakat di negara berkembang dapat mengakses dan menikmati produk, layanan, dan informasi yang mungkin sulit mereka temukan di daerahnya.
c.    Kemudahan akses fasilitas publik
Masyarakat dengan mudah dapat memanfaatkan layanan publik, misalnya layanan kesehatan dan konsultasi serta pembelian resep dokter dengan mengunjungi internet.

E.  Perjalanan E-Commerce
Perkembangan Teknologi Informasi telah berhasil menciptakan infrastruktur informasi baru. Internet memiliki beberapa daya tarik dan keunggulan bagi para konsumen maupun organisasi, misalnya dalam hal kenyamanan, kecepatan data, akses 24 jam sehari, efisiensi, alternatif ruang dan pilihan yang tanpa batas, personalisasi, sumber informasi dan teknologi yang potensial dan lain lainnya.
Dalam konteks bisnis, internet membawa dampak transformasional yang menciptakan paradigma baru dalam dunia bisnis berupa 'Digital Marketing'. 
Pada awal penerapan electronic commerce yang bermula di awal tahun 1970-an dengan adanya inovasi semacam Electronic Fund Transfer (EFT). Saat itu penerapan sistem ini masih sangat terbatas pada perusahaan berskala besar, lembaga keuangan pemerintah dan beberapa perusahaan menengah kebawah yang nekat, kemudian berkembang hingga muncullah yang dinamakan EDI (Electronic Data Interchange). Bermula dari transaksi keuangan ke pemprosesan transaksi lainnya yang membuat perusahaan-perusahaan lain ikut serta, mulai dari lembaga-lembaga keuangan hingga ke manufacturing, ritel, jasa dan lainnya. Kemudian terus berkembang aplikasi-aplikasi lain yang memiliki jangkauan dari trading saham sampai ke sistem reservasi perjalanan. Pada waktu itu sistem tersebut dikenal sebagai aplikasi telekomunikasi.
Awal tahun 1990-an komersialisasi di internet mulai berkembang pesat mencapai jutaan pelanggan, maka muncullah istilah baru electronic commerce atau lebih dikenal E-Commerce. Riset center E-Commerce di Texas University menganalisa 2000 perusahaan yang online di internet, sektor yang tumbuh paling cepat adalah E-Commerce, naik sampai 72% dari $99,8 Milyar menjadi $171,5 Milyar. Di tahun 2006 pendapatan di Internet telah mencapai angka triliunan dollar, benar-benar angka yang menakjubkan.
Salah satu alasan pesatnya perkembangan bisnis online adalah adanya perkembangan jaringan protokol dan sofware dan tentu saja yang paling mendasar adalah meningkatnya persaingan dan berbagai tekanan bisnis.

F.  Penyiapan Ekonomi Berbasis Internet
Nilai dasar untuk mendefinisikan bisnis di dunia maya adalah penyediaan informasi tentang perusahaan produk dan jasa, menjadi pusat informasi bagi calon pelanggan, menyediakan layanan transaksi langsung, layanan dan dukungan terus menerus.  Peran akuntan di dalam digital ekonomi akan berubah menjadi e-check requisition, e-authorization system, e-fund transfer, e-data entry thru coustomer intergrated system which capture data at its “point of origin”, e-transaction proses system, e-financial reporting.  Jaminan keamanan transaksi e-commerce bagi konsumen, ketika konsumen bertransaksi mereka sedang bertransaksi dengan perusahaan rill bukan fiktif, barang yang akan konsumen terima adalah barang yang sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. Setiap konsumen berhak untuk meminta perusahaan e-commerce tidak menyebarkan informasi pribadi kepada pihak ketiga, infromasi pribadi tidak dapat dicuri secara teknologi.  Audit prinsip-prinsip web trust, meliputi tiga area praktek antara lain, praktek bisnis, integeritas transaksi, dan kerahasian pribadi dan keamanan.

G. Perkembangan E-commerce di Indonesia
Di dalam perkembangan E-Commerce di Indonesia, memiliki tantangan-tantangan, diantaranya yaitu :
1.      Kultur
a.    Masyarakat Indonesia, yang masih belum terbiasa dengan berbelanja dengan katalog.
b.    Masih harus melihat secara fisik atau memegang barang yang akan dijual.
c.    Masih senang menawar harga yang dijual.
2.    Kepercayaan
a.   Kepercayaan antara penjual dan pembeli masih tipis.
b.   Kepercayaan kepada pembayaran elektronik masih kurang.
c.   Penggunaan masih jarang.

Sampai saat ini, web resmi yang telah menyelenggarakan e-commerce di Indonesia adalah RisTI Shop. Risti, yaitu Divisi Riset dan Teknologi Informasi milik PT. Telkom, menyediakan prototipe layanan e-commerce untuk penyediaan informasi produk peralatan telekomunikasi dan non-telekomunikasi. Web ini juga telah mendukung proses transaksi secara online. Selain RisTI, tampaknya belum ada web lain yang menyelenggarakan e-com di Indonesia. Padahal, untuk membuat sistem e-com, investasi yang dikeluarkan tidak sebesar membangun suatu toko yang sebenarnya. Selain itu, lingkup pemasaran produknya bisa jauh lebih luas, karena tidak terbatas pada satu kota tertentu. Selain itu, biaya penyelenggaraan dan promosi pada e-com juga lebih kecil jika dibandingkan dengan sistem toko yang konvensional.Ada Beberapa Usaha Besar yang Sedang Berjalan membangun mata rantai E-Commerce Nasional, yaitu : Lippo-e-Net, Telkom dengan CommerceNet & Plasa.Com, Indosat dengan Portal 1-2, IndosatCom dengan Dagang2000 & Indosign, Jatis dengan solusi etalaze-nya


H. Beberapa Kesalahan Mendasar Penyebab Kegagalan Bisnis E-Commerce  
Melakukan bisnis di dunia maya (e-commerce) sama sekali berbeda dengan mengelola perusahaan konvensional. Selain dibutuhkan ketekunan dan kreativitas yang terus-menerus, strategi yang tepat perlu disusun dan dikembangkan agar keunggulan kompetitif yang dimiliki dapat terus dipelihara dan ditingkatkan. Statistik mencatat bahwa dari seluruh perusahaan berbasis internet yang tumbuh, hanya sekitar 20% yang mampu bertahan untuk beroperasi dalam periode waktu yang cukup panjang. Amir Hartman dan rekan-rekan dalam bukunya “Net Ready” menemukan 7 (tujuh) kesalahan mendasar yang menyebabkan terjadinya kegagalan bagi mayoritas pelaku bisnis e-commerce yang ada di dunia (Hartman, 2000). Dikatakan mendasar karena hampir seluruh situs yang “mati” melakukan satu atau lebih kesalahan umum tersebut. 7 (tujuh) kesalahan mendasar tersebut, antara lain :
1.  “Field of Dreams” Syndrome
Sindrom “Field of Dreams” menempati urutan pertama sebagai jenis permasalahan klasik yang paling banyak terjadi di berbagai perusahaan e-commerce. Yang dimaksud dengan Sindrom “Field of Dreams” adalah keyakinan para pendiri dan pengelola situs bahwa jika sebuah model bisnis e-commerce tertentu diperkenalkan, maka pelanggan akan datang dengan sendirinya (otomatis) karena daya tarik produk atau servis yang ada. Keyakinan yang cenderung bersifat over confidence ini berakibat tidak adanya keinginan untuk melakukan usaha-usaha semacam studi kelayakan atau market testing terlebih dahulu. Atau dengan kata lain, tanpa mempertimbangkan apakah produk/jasa yang ditawarkan akan laku atau tidak, investasi untuk membangun dan mengembangkan bisnis e-commerce langsung dilakukan. Perkiraan keuangan pun biasanya disusun dengan mempergunakan asumsi best case scenario karena unsur kepercayaan diri yang berlebihan tersebut.
Model bisnis tersebut di atas, biasanya akan segera mati jika harapan akan datangnya pelanggan dengan jumlah yang telah ditargetkan tidak terjadi. Bisnis sulit untuk bangkit kembali mengingat alokasi keuangan (finansial) telah dilakukan sedemikian rupa dengan anggapan bahwa best case scenario akan terwujud. (Sumber: Amir Hartman, 2000)



2.  Inadequate Architecture
Tidak jarang suatu bisnis model e-commerce yang berpeluang besar untuk sukses harus kandas karena tidak adanya fasilitas atau spesifikasi arsitektur teknologi informasi yang memadai. Contohnya adalah pemutaran film atau multimedia melalui internet (e-movie) yang hanya dapat terwujud jika tersedia bandwidth komunikasi yang memadai. Contoh lain adalah kegagalan beberapa situs yang menawarkan free download untuk memperoleh jumlah pelanggan yang diharapkan karena kebanyakan pemakai internet di negara berkembang merasa rugi untuk melakukan download yang memakan waktu cukup lama, sehingga mereka harus membayar mahal biaya telepon. Belum tingginya faktor kegagalan karena sering putusnya hubungan komunikasi ketika proses download sedang berjalan. Hal serupa juga dialami oleh beberapa pelanggan yang ingin berkomunikasi melalui alat semacam infotalk agar pulsa telepon internasional dapat dibayar dengan harga lokal. Hubungan berbasis Voice over Internet Protocol ini tidak akan efektif jika provider yang bersangkutan sedang berada dalam peak traffic.

3. Putting Lipstick on a Bulldog
Terlepas dari berbagai jenis atau kategori e-commerce seperti B-to-B atau B-to-C, secara konseptual arsitektur teknologi informasi yang dipergunakan dapat dibagi menjadi dua sistem besar, yaitu sistem front office (SFO) dan sistem back office (SBO). Pada dasarnya, situs atau website merupakan user interface dari SFO karena sifatnya yang menghubungkan konsumen dengan perusahaan. Sehingga seringkali perusahaan mengalokasikan sebagian besar sumber daya-nya untuk membangun sistem ini agar tanpak bagus dan menarik di mata konsumen. Hal ini wajar untuk dilakukan mengingat dalam dunia maya, konsumen hanya berhadapan dengan sebuah situs sebagai representasi dari perusahaan. Riset memperlihatkan bahwa desain situs yang kurang menarik dan tidak user friendly mengurangi minat konsumen untuk melakukan transaksi atau interaksi bisnis lainnya. Karena terlalu memfokuskan diri pada SFO, terkadang perusahaan lupa untuk membangun sistem administratifnya atau SBO, yang sebenarnya merupakan aktivitas penunjang transaksi bisnis yang ada. Contohnya adalah situs yang menawarkan jasa lelang (auction) di internet. Setelah seseorang memenangkan sebuah sesi lelang, yang bersangkutan harus segera berhubungan dengan SBO untuk menyelesaikan permasalahan hukum dan administratifnya, seperti transfer pembayaran, serah terima barang, balik nama, masalah perpajakan, dan lain sebagainya. Jika perusahaan gagal menawarkan suatu penyelesaian SBO yang baik kepada konsumen, tidak mustahil lambat laun perusahaan akan kehilangan para pelanggan. Harap diperhatikan bahwa ada dua jenis SBO, yaitu yang masih dikelola secara manual, dan yang telah menggunakan fasilitas aplikasi dan komputer (otomatisasi).

4.  Islands of Webification
Konsep pengembangan situs yang berbasis obyek, selain memudahkan perancang dan pengembang sistem aplikasi untuk menambah dan mengurangi modul, menimbulkan pula permasalahan tersendiri di kemudian hari. Kebanyakan perancang situs biasanya lebih memilih pendekatan “tambal sulam” dibandingkan dengan melakukan perencanaan yang matang mengenai konsep situs untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Hal ini cukup dapat dimengerti karena tidak jarang dari mereka yang masih menggunakan pendekatan trial-and-error dalam menetapkan icons yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan minat pelanggan. Terlepas dari apakah perusahaan telah memiliki konsep pembangunan situs secara bertahap atau tidak, yang harus diperhatikan adalah dimilikinya suatu konsep blue print untuk mencegah terjadinya efek-efek negatif yang mungkin ditimbulkan karena adanya pengembangan situs website yang tidak terorganisasi. Adanya islands of webification yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya akibat sebagai berikut:
1.      Hubungan antar data menjadi tidak terkontrol sehingga mengurangi tingkat reliability dan accuracy data atau informasi yang diolah;
2.      Menurunnya tingkat sistem keamanan (security system) karena banyaknya modul-modul “liar” yang belum terdeteksi;
3.      Semakin lambatnya kinerja sistem karena semakin besarnya beban aplikasi yang dibangun secara tidak optimum;
4.      Sulitnya melakukan updating karena kuantitas modul yang semakin bertambah besar dan tidak terkendali;
5.      Minimnya kontrol terhadap masing-masing modul karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki perusahaan; dan lain sebagainya.
Tidak mustahil chaos dapat terjadi terhadap situs yang tidak terkelola dengan baik. Belum lagi jika adanya faktor-faktor kesengajaan lain seperti halnya ulah hackers dan crackers.

5. “Me too” Strategies
Dalam bahasa Indonesia, strategi “me too” sering diistilahkan dengan “latah” atau “ikut-ikutan”. Lihatlah bagaimana seluruh perusahaan ikut-ikutan untuk terjun ke e-commerce tanpa mengetahui dasar-dasar pemikiran dan filosofi yang melatarbelakanginya. Atau membanjirnya perusahaan-perusahaan lokal untuk membuat situs portal, tanpa mengetahui seluk beluk atau aspek bisnis yang ditawarkan. Sebenarnya konsep me too ini tidak salah sejauh yang bersangkutan paham benar mengenai peluang-peluang bisnis yang ditawarkan dan mengapa berbagai perusahaan mencoba untuk memanfaatkannya. Sebab jika tidak, yang akan terjadi adalah sebuah pemborosan sumber daya yang dimiliki, kesulitan untuk menemukan keunggulan kompetitif, kekacauan dalam mengelola manajemen operasional sehari-hari, yang akan bermuara pada ketidakmampuan bisnis untuk bertahan. Contohnya adalah kenyataan bahwa bisnis portal marak di Amerika karena adanya faktor exit strategy yang cenderung bersifat hit-and-run setelah perusahaan yang bersangkutan memiliki market value yang tinggi. Nilai pasar sangat ditentukan oleh hitting rate dari situs yang bersangkutan, karena masyarakat Amerika memiliki potensi untuk melakukan bisnis melalui e-commerce. Semakin banyak orang yang mengakses situs portal akan semakin menambah nilai pasar perusahaan. Apakah hitting rate juga dapat secara efektif meningkatkan value dari perusahaan di Indonesia?

6. One-Time-Effort-Mentality
Tidak semua perusahaan e-commerce merupakan a start up company. Kebanyakan justru merupakan anak perusahaan atau bahkan salah satu divisi dari perusahaan-perusahaan yang telah lama berkembang. Terhadap jenis perusahaan yang terakhir ini, biasanya berkembang suatu “penyakit” turunan yaitu kepuasan yang timbul setelah situsnya berhasil diluncurkan ke internet (launching). Mereka cenderung menganggap remeh atau enteng proses setelah itu, karena bagi mereka tidak lebih dari urusan operasional atau administratif biasa. One-Time-Effort-Mentality ini akan mengakibatkan perusahaan yang bersangkutan hanya mampu bertahan seumur jagung saja, karena di dalam dunia maya, sangat mudah untuk meniru apa yang dilakukan oleh perusahaan lain. Kunci sukses bisnis e-commerce adalah ketekunan untuk memelihara sistem yang berjalan dan selalu membuat kreasi yang baru secara kontinyu. E-commerce adalah business of its own, artinya bisnis ini tidak dapat disambi melainkan harus dianggap sebagai sebuah perusahaan sendiri. Alokasi sumberdayanyapun harus didedikasikan sedemikian rupa sehingga tidak menggangu jalannya proses bisnis yang ada (jangan dirangkap dengan aktivitas bisnis konvensional).

7. Thinking too Small
Berbisnis di dunia maya berarti berinteraksi dengan seluruh konsumen yang ada di seluruh dunia, sehingga pola pikir sempit harus segera diubah. Mungkin peribahasa yang tepat dalam menekuni bisnis ini adalah “think globally, act globally” karena di dalam dunia maya dikenal konsep “sebuah perusahaan tidak perlu besar untuk menjadi besar”, yang artinya bahwa nilai aset tidak memiliki relevansi yang tinggi terhadap tingkat keberhasilan bisnis. Berfikir sederhana atau terlalu sempit dalam melakukan bisnis e-commerce akan mempermudah perusahaan lain untuk memenangkan persaingan. Di samping itu perlu diperhatikan pula bahwa konsumen sebagai seorang manusia tidak pernah berhenti dalam memperoleh kepuasannya. Yang bersangkutan akan terus menerus menuntut sesuatu hal yang baru dan lebih baik. Perusahaan dengan visi dan misinya harus mampu untuk menjawab permintaan pasar ini. Filosofi perusahaan konvensional dapat dipergunakan di sini, yaitu suatu prinsip bahwa jika mendirikan sebuah perusahaan, pemilik dan pengelola harus memegang prinsip bahwa perusahaan tersebut akan last forever, dalam arti kata akan terus berkembang sampai beberapa generasi.

I.                        Kesimpulan dan Saran
a.                  Kesimpulan
Dengan menggunakan e-commerce kita dapat memperoleh beberapa keuntungan yang meliputi layanan konsumen dan citra perusahaan menjadi baik, menemukan partner bisnis baru, proses menjadi sederhana dan waktu dapat dipadatkan, dapat meningkatkan produktivitas, akses informasi menjadi cepat, penggunaan kertas dapat dihindari, biaya transportasi berkurang dan fleksibilitas bertambah.
Manfaat dari e-commerce bagi konsumen diantaranya dapat melayani transaksi 24 jam hampir disetiap lokasi, memberikan banyak pilihan pada pelanggan, menyediakan produk yang tidak mahal dengan cara mengunjungi banyak tempat dan melakukan pembandinagn secara tepat, pengiriman menjadi cepat, partisipasi dalam pelayanan maya (virtual action), dapat berinteraksi denagn pelanggan lain dan memudahkan persaingan.
Manfaat e-commerce bagi masyarakat diantaranya dapat memungkinkan untuk bekerja dirumah, terbatasnya jumlah barang yang dijual, dapat menikmati produk atau jasa yang susah dipasarkan, memfasilitasi layanan publik seperti perawatan, kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Dengan adanya berbagai keuntungan e-commerce, maka ada juga keterbatasannya dengan kategori teknis dan nonteknis.

b.     Saran
1.    Walaupun e-commerce sudah menjadi solusi efektif dan efisien dalam mengatasi segala kebutuhan masyarakat dari sisi materiil, namun aspek-aspek moril yang terkait dengan hubungan sosial-kemanusian juga perlu diperhatikan, seperti :
a.      Berkurangnya interaksi antar manusia
    Transaksi e-commerce yang berlangsung secara on-line telah mengurangi waktu konsumen untuk dapat melakukan proses sosial dengan orang lain. Hal ini tidak baik karena dikhawatirkan akan dapat mengurangi rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
b.    Kesenjangan sosial
    Terdapat bahaya potensial karena dapat terjadi kesenjangan sosial antara orang-orang yang memiliki kemampuan teknis dalam e-commerce dengan yang tidak, yang memiliki keahlian digaji lebih tinggi daripada yang tidak.

c.    Adanya sumber daya yang terbuang
    Munculnya teknologi baru akan membuat teknologi lama tidak dimanfaatkan lagi. Misalnya dengan komputer model lama atau software model lama yang sudah tidak relevan untuk digunakan.
    1.     Sulitnya mengatur internet
    Sejumlah kriminalitas telah terjadi di internet dan banyak yang tidak terdeteksi. Karena jumlah jaringan yang terus berkembang semakin luas dan jumlah pengguna yang semakin banyak, seringkali membuat pihak berwenang kesulitan dalam membuat peraturan untuk internet.

2.         Perkembangan e-commerce yang luas dan lingkungan tiada batas yang diciptakan untuk e-commerce membawa paradigma baru bagi Pemerintah dan tanggung jawab sektor swasta. Oleh karena itu diharapkan kepada Pemerintah agar mempunyai kebijakan publik yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dijital yang menawarkan fleksibilitas, solusi industri yang secara efektif akan mengatasi masalah yang timbul.


DAFTAR PUSTAKA

  Raharjo, Dendy. 2013. KONSEP DASAR E- COMMERCE. http://dendyraharjo.blogspot.com/2013/03/konsep-dasar-e-commerce_31.html. Diakses tanggal 31 Maret  2013
Jauhari, Tantowi. 2013. Mengenal bisnis Online. http://www.tanthowi.com/2013/10/mengenal-bisnis-online.html. Diakses tanggal 1 oktober 2013
Radjasa, Rangga. 2009. Perjalanan E-Commerce di Indonesia. http://ranggaradjasa.wordpress.com/2009/06/29/perjalanan-e-commerce-di-indonesia/. Diakses tanggal 29 Juni 2009
Ayuananda, Citra. 2013. KONSEP DASAR E- COMMERCE. http://citraayuananda.blogspot.com/2013_04_01_archive.html.  Diakses tanggal 1 April 2013
Institut Teknologi Bandung. 2013. Ekonomi berbasis internet dalam persepsi indonesia. Bandung.  Diakses tanggal 11 oktober 2013

1 komentar: