Kamis, 17 Oktober 2013

KIAT MENJADI CERDAS

Cerdas sering menjadi idaman orang tua kepada anaknya, jika mempunyai anak yang cerdas maka menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tuanya. Masyarakat beranggapan anak yang cerdas merupakan turunan dari orang tuanya yang cerdas pula.
Dewasa ini banyak ibu yang sedang hamil memiliki pemahaman bahwa anak yang dikandungnya harus sudah diberi pelajaran meski hanya lewat pendengaran. Karena itu, tidak jarang kaum ibu yang sedang hamil sering mendengarkan musik klasik. Alasannya, musik klasik bisa mempengaruhi perkembangan otak si bayi. Sang ibu yang sedang mengandung akan lebih sering bernyanyi dan bermain piano atau bahkan banyak membeli buku matematika dan mereka menyelesaikan soal secara bersama dengan suaminya. Si ibu akan terus mengerjakan soal-soal matematika hingga sampai waktu melahirkan. Sebenarnya untuk mempengaruhi perkembangan otak bayi tidak harus hanya mendengarkan musik klasik tetapi bisa juga dengan mendengarkan musik-musik lain yang mengundang ketenangan, antara lain seperti membaca atau melantunkan ayat-ayat suci al-qur'an (bagi umat islam) dan melakukan tindakan-tindakan/berprilaku baik supaya anak sudah terbiasa dengan hal-hal yang baik sejak dari dalam kandungan.
Di samping itu, si ibu suka memakan kacang badam dan kurma bersama susu.  Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan kacang badam dan berbagai jenis kacang-kacangan. Daging ikan juga sangat baik untuk perkembangan otak. Memang makanan sangat dipercaya dapat mempengaruhi perkembangan genetic seseorang, terutama makanan yang mengandung nilai gizi yang tinggi, antara lain mengkonsumsi ikan laut yang mempunyai kandungan protein yang sangat tinggi. Hubungan antara konsumsi makanan dan beragamnnya respons pada berbagai individu dengan latar belakang genetik yang berbeda sudah lama diketahui, misalnya pada kasus galaktosemia dan phenylketonuria (PKU). Galaktosemia, pertama kali ditemukan tahun 1917 oleh F Goppart, adalah varian genetik di mana individu sejak lahir tidak memiliki kemampuan memetabolisme galaktosa (tidak memiliki aktivitas enzim galaktosa-1-phosphat uridyltranferase).
Sebagai akibatnya pada individu ini jika mengonsumi makanan yang mengandung galaktosa akan terjadi akumulasi galaktosa dalam darahnya yang berimplikasi munculnya berbagai gangguan kesehatan, termasuk gangguan pertumbuhan mental. PKU, ditemukan tahun 1934 oleh Asbjorn Folling, adalah varian genetik pada individu yang menyebabkan tidak adanya aktivitas enzim phenilalanin hidroksilase.
Sebagai akibatnya pada individu ini jika mengonsumsi makanan yang mengandung phenilalanin akan terjadi akumulasi phenilalanin dalam darahnya yang bisa berakibat terjadinya kerusakan neurologis. Namun, adanya kedua varian tersebut sudah bisa diketahui sejak dini setelah lahir dan ditangani dengan mengelola makanannya agar rendah galaktosa atau rendah phenilalanin.
menurut Ridley, bahwa kira-kira separuh IQ kita dapatkan melalui pewarisan, dan kurang dari 20% berasal dari asuhan keluarga. Sisanya berasal dari kandungan, sekolah, dan teman sepergaulan. Sifat pewarisan IQ sewaktu anak-anak porsinya kurang lebih 45%, sedangkan pada masa akhir remaja naik menjadi 75%. Sejalan dengan pertumbuhan, anak secara berangsur mengekspresikan kecerdasan bawaan dan meninggalkan pengaruh-pengaruh sebelumnya yang ditanamkan orang lain. Akhirnya, meskipun terbukti sahih bahwa kecerdasan diwariskan, sifat pewarisan bukan berarti tidak dapat berubah. Kecerdasan bawaan sangat berperan, sebagaimana pengaruh lingkungan asuhan tak dapat disepelekan.
Faktor genetik seorang Ibu sangat berpengaruh terhadap kecerdasan anak. Menurut ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands Dr Ben Hamel “Pengaruh itu sedemikian besar karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibu”.  Karena itu, ibu yang cerdas berpotensi besar melahirkan anak yang cerdas pula. “Dengan demikian, lebih baik memiliki ibu yang cerdas daripada ayah yang cerdas,” ujar Hamel. Namun, kelainan genetika dari seorang ibu juga dapat diturunkan kepada anak-anaknya, termasuk di antaranya retardasi mental.  Dalam keadaan normal, setiap manusia memiliki 23 pasang kromosom yang terdiri atas 22 pasang kromosom autosom dan sepasang kromosom seks. Ada 23 kromosom berasal dari ibu yang disebut kromosom XX dan 23 pasang lagi berasal dari ayah yang disebut kromosom XY.
Otak dikatakan berfungsi optimal jika memiliki kemampuan berfikir kreativ dan innovative pada saat yang tepat. Untuk mendapatkan sel otak yang bisa berfungsi maksimal, selain faktor genetik, juga dipengaruhi oleh asupan gizi, dan ransangan luar.
Genetik diturunkan dari kedua orang tua, asupan gizi dan ransangan dari luar tergantung dari bagaimana kita memenuhi kebutuhan gizi anak, dan melayani anak, apakah permainan, interaksi orang tua dan anak. Permainan edukatif dan yang banyak mengundang kreativitas anak tentu akan lebih baik untuk perkembangan otak yang sempurna. Sehingga kecerdasan yang sebenarnya itu adalah akumulasi dari genetik, supply gizi dan ransangan. Dengan artian walaupun orang tua mempunyai genetik yang baik, tapi anak tidak diberi makanan yang baik dan tanpa diransang justru kecerdasan itu tidak akan muncul sempurna.
Istilah kecerdasan emosi pertama kali berasal dari konsep kecerdasan sosial yang dikemukakan oleh Thordike pada tahun 1920 dengan membagi 3 bidang kecerdasan yaitu kecerdasan abstrak (seperti kemampuan memahami dan memanipulasi simbol verbal dan matematika), kecerdasan konkrit seperti kemampuan memahami dan memanipulasi objek, dan kecerdasan sosial seperti kemampuan berhubungan dengan orang lain.
Kecerdasan sosial menurut Thordike yang dikutip Daniel Goleman (2002) adalah kemampuan untuk memahami dan mengatur orang lain untuk bertindak bijaksana dalam menjalin hubungan, meliputi kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Kecerdasan interprersonal adalah kecerdasan untuk kemampuan untuk memahami orang lain, sedangkan kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan mengelola diri sendiri (Mangkunegara, 2005).
Menurut Goleman (2001:512), kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenal perasaan diri sendiri dan orang lain untuk memotivasi diri sendiri dan mengelola emosi dengan baik dalam diri kita dan hubungan kita. Kemampuan ini saling melengkapi dan berbeda dengan kemampuan akademik murni, yaitu kemampuan kogniktif murni yang diukur dengan Intelectual Quetient (IQ). Sedangkan menurut Cooper dan Sawaf (1998), kecerdasan emosional adalah kemampuan mengindra, memahami dan dengan efektif menerapkan kekuatan dan ketajaman emosi sebagai sumber energi, informasi dan pengaruh. Salovely dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain, serta menggunakan perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan.
Konsep EQ berpendapat bahwa IQ, atau kecerdasan konvensional, terlalu sempit, dan ada faktor lain yaitu Emotional Intelligence yang dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang. Dengan kata lain, kesuksesan membutuhkan lebih dari IQ (Intelligence Quotient), yang cenderung menjadi ukuran tradisional kecerdasan, mengabaikan perilaku penting dan elemen karakter.


3 komentar:

  1. Semangat infox. Trima kasih sista. Hmmm...kasih foto tambah asiik lho. Ditunggu info terbarunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks masukannya,,,,
      Jika teman-teman mempunyai info terkini silahkan tambahkan dalam artikel ini...

      Hapus
  2. smoga artikel2.....makin banyak n makin bagus2...... saluuut.........saluuuuut....

    BalasHapus